Sabtu, 07 November 2009

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa  
Thursday, 17 September 2009 
Dua Kenikmatan Yang Sering Dilupakan
Senin, 14 September 2009 



قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ 

(صحيح البخاري)


Sabda Rasulullah saw :
“dua kenikmatan yg sering dilupakan banyak orang, kesehatan dan kelowongan waktu” (Shahih Bukhari) 



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang sama – sama kita muliakan Guru kita yang kita cintai fadhilatul sayyid ad da’i ilallah Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Athas matta’Anallahu bihi, para ulama, para kyai, dan para tokoh masyarakat yang hadir, para sesepuh.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja Tunggal dan Maha Abadi, Yang Maha Melimpahkan Rahmat dengan Kemuliaan-Nya sepanjang waktu dan zaman. Yang di malam mulia ini, di malam 25 Ramadhan, yang padanya terdapat sedemikian banyak hujan cahaya Rahmat Illahi, menghujani umat Nabi Muhammad Saw dengan tawaran – tawaran Illahi yang disampaikan kepada utusan Allah yang paling suci, Sayyidina Muhammad Saw.

“Taharraw lailatalqadri fil witri min al’asyril awakhiri min ramadhan”. Demikian riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim. “Temuilah kemuliaan malam lailatulqadr di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, di malam ganjil”. Dan hadits lainnya “temuilah kemuliaan lailatulqadr di 7 malam terakhir, di malam ganjil di bulan Ramadhan”. Semoga malam ini, malam kemuliaan bagiku dan kalian dilimpahi cahaya kemuliaan lailatulqadr dan segala Anugerah-Nya. Di malam 25 Ramadhan, kita berkumpul di dalam cahaya Anugerah Ilahi, terang – benderang menghujani para tamu-Nya yang berdatangan ke Baitullah, berdatangan ke istana Keridhoan Allah ini dan tiadalah 1 orang tamu yang akan dikecewakan oleh Sang Maha Dermawan terkecuali semua tamu disambut dengan Anugerah Luhur, disambut dengan semulia – mulia Anugerah. Anugerah yang tidak bisa diberikan pada makhluk satu sama lainnya, Anugerah yang hanya dimiliki Allah berupa Anugerah yang kekal dan abadi, Kasih Sayang Allah ditumpah-ruahkan, dihujankan dan dihamparkan kepada para tamu – tamu Allah. Mereka yang berkumpul di dalam dzikir, berkumpul di dalam taklim, dan kemuliaan shalawat dan dzikir dzikir Nabawiy, semoga aku dan kalian selalu di dalam Kasih Sayang Rahmat Allah yang abadi dhahiran wa bathinan, dunia dan akhirat.

Hadirin – hadirat, Sang Nabi Saw bersabda “matsalulladzii yadzkurullah walladzii laa yadzkurullah matsalul-hayyi wal-mayyiti”, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. “Perumpamaan orang – orang yang bedzikir mengingat Allah dengan orang yang tidak pernah mengingat Allah, bagaikan perumpamaan yang hidup dan yang mati”. Jiwanya padam dari Keluhuran Ilahi, ia makan dan minum melewati hari – harinya dan lepas dari Anugerah yang abadi. Di hadapan manusia, ia hidup, berbicara dan berbuat. Namun di hadapan Allah, tiada bedanya dengan yang mati, karena ia tidak mau mengingat Allah.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Beruntunglah kita yang hadir di majelis agung ini, semoga selalu dalam kemuliaan dzikir sepanjang hidup kita. Dalam pekerjaan, dalam aktifitas, dalam rumah tangga, dalam siang dan malam, semoga jiwa kita selalu diingatkan Allah dan digetarkan Allah pada Cahaya Kemuliaan Nama-Nya.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu di malam – malam terakhir ini khususnya, perbanyaklah dzikir dengan menyempurnakan shalat fardhu kita semampunya, dengan memperbanyak dan menambah khusyu’nya semampunya, menyempurnakan shalat tarawih semampunya, memperbanyak bacaan Alqur’an semampunya, meninggalkan segala dosa semampunya, melaksanakan hal – hal yang mulia semampunya. Sungguh teriwayatkan di dalam Shahih Muslim, ketika turunnya firman Allah Swt “Lillahi maa fissamaawaati wamaa fil ardh, wa in-tubduu maa fii anfusikum awtukhfuuhu yuhaasibkum bihillah, fayaghfiru liman yasyaa’ wa yu’addzibu man yasyaa, wallahu ‘alaa kulli syaiin qadiir” 
Milik Allah seluruh langit dan bumi. Dan Allah Swt mengetahui semua apa yang tersembunyi dan semua yang terlihat. Semua perbuatan kita yang terlihat oleh makhluk atau perbuatan kita yang disembunyikan berupa dosa dan pahala, Allah Maha Melihatnya dan tiada yang tersembunyi bagi Allah. Maka Allah akan menghisab kalian, QS. Al Baqarah : 284). Demikian firman Allah Swt dan Mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan akan menurunkan siksa bagi yang dikehendaki-Nya.

Ketika ayat ini turun, berdatangan para sahabat kehadapan Sang Nabi Saw, mereka berlutut dan menangis di hadapan Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Allah sudah perintahkan shalat, puasa, zakat dan apa semampu kami, namun sekarang datang firman Allah, kami akan dihisab, bagaimana ini sungguh sangat berat?”, maka Nabi Saw bersabda sebagaimana riwayat Shahih Muslim “apakah kalian akan berkata sebagaimana orang – orang yahudi yang ketika diperintah mereka berkata “sami’na wa ashaynaa faquuluu sami’na wa atha’naa”.
Kalian ini jangan seperti orang yahudi, kata Rasul saw. Kenapa? Orang yahudi ketika diperintah Allah, ia berkata “kami dengar tapi kami tidak mau taat, katakan kami dengar dan kami taat”. Maka para sahabat menunduk, menghentikan tangisnya seraya berkata “sami’na wa atha’naa” kami dengar dan kami taat.

Demikian indahnya iman para sahabat radhiyallahu anhum. Dalam keadaan sunyi senyap, ketika para sahabat mengalah dan menerima apapun yang sangat berat yang mereka keluhkan pada Sang Nabi Saw, maka turunlah ayat “aamanarrasuulu bimaa unzila ilaihi min rabbihii wal mu’minuna kullu aamana billahi wa malaikatihii wa kutubihii wa rasulihii laa nufarriqu baina ahadin min rusulihii wa qaluu sami’na wa athanaa ghufranaka rabbana wa ilaikal mashir, laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa maaktasabat..” sampai akhir ayat. Demikian indahnya Allah Swt.

Setelah mereka mengadu pada Sang Nabi saw, mereka tidak mampu jika harus melewati hisab setelah mereka berjuang dengan apa – apa yang mereka mampu. Lalu bagaimana dengan hisab dari apa – apa yang mereka tidak mampu? Allah menjawab “Allah tidak memaksa lebih dari kemampuan kalian”, mereka berkata “sami’na wa athanaa ghufranaka rabbana wa ilaikal mashir” kami dengar dan kami taat, pengampunan-Mu dan kepada-Mu kami akan kembali dan Allah tidak memaksa seseorang lebih dari kemampuannya. Demikian indahnya Allah.

Sekedar kemampuanmu, berbuatlah dan Allah tidak akan menghisab dengan yang lebih dari itu. Allah akan menghisab jika kita mampu tapi kita tidak melakukannya, itu yang akan dihisab oleh Allah Swt.
Bagaimana dengan hal – hal yang kita mampu dan kita masih melakukannya? Allah masih mengajarkan doa “rabbana laa tu-akhidznaa in-nasiinaa aw-akhthanaa” Wahai Allah ampuni kami, jika kami salah dan kami lupa. Allah yang ajarkan. Kalau bahasa logika kita, enak sekali sudah berbuat salah lalu minta pengampunan dosa? Allah yang ajari untuk memberi pengampunan-Nya kepada semua pendosa.

Mintalah kepada-Ku, “rabbana walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablinaa” jangan bebani kami seperti umat – umat yang terdahulu beban yang berat, beri kami beban yang lebih ringan.
Memangnya boleh seperti itu? minta beban yang lebih ringan?. (sungguh telah) Diajari oleh Allah, agar kau mendapat beban hidup yang lebih ringan. Minta kepada Allah, “Rabbiy di zaman para sahabat bebannya berat sekali, aku tidak mampu berbuat seperti mereka”. Allah sudah ajari agar jangan dibebani umat seperti beban yang berat tapi beri kemuliaannya.

“Walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi” jangan bebani kami dari apa – apa yang kami tidak mampu.“Wa’fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa anta mawlaanaa fanshurnaa ‘alal qaumilkafiriin” kasih sayangilah kami, maafkanlah kami, dan tolonglah kami dari orang – orang non muslim yang memusuhi kami.

Tolong agar mereka diberi hidayah, tolong agar mereka yang memusuhi diberi hidayah dan jika mereka memerangi, tolong diberi pertolongan agar kita menang. Demikian indahnya doa yang diajarkan oleh Allah Swt kepadaku dan kalian dan seluruh umat ini.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul Saw bersabda “wallahi inniy la-astaghfirullah wa atubuilaihi fil yaumi aktsara min sab’ina marrah”.
Demikian riwayat Imam Bukhari didalam musnidnya. “Demi Allah, bahwa aku ini bertaubat dan beristighfar kepada Allah setiap hari lebih dari 70X”. Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini dengan syarah yang panjang, namun ringkasnya adalah Rasul Saw adalah orang yang paling mulia dan ma’shum. Bagaimana beliau bertaubat dan beristighfar atas apa? karena tidak ada dosanya. Maka dua pendapat yang paling kuat dikatakan oleh Al Imam Ibn Hajar, yang pertama adalah Rasul Saw beristighfar dari kemuliaan – kemuliaan yang lewat dari hari – harinya yang belum sempat beliau laksanakan.

Pendapat yang kedua adalah beliau beristighfar untuk seluruh umatnya, karena Rasul saw kalau berdoa tidak pernah untuk dirinya tapi selalu menyertakan umatnya. Beliau beristighfar dan bertaubat untuk umatnya pula, karena didalam riwayat yang tsigah didatangkan kepadaku amal – amal pahala kalian umatku setelah aku wafat dan apabila amal kalian baik, aku memuji Allah dan bila amal kalian buruk, aku beristighfar untuk kalian.

Inilah Sayyidina Nabi Muhammad Saw yang sudah diperintahkan Allah Swt, “fa’lam annnahu Laa ilaaha illallah, wastaghfir lizanbika walil mukminina wal mukminat” Allah sudah perintahkan kepada Nabi saw untuk beristighfar kepada mukminin dan mukminat, maka Rasul saw beristighfar lebih dari 70X dan bertaubat setiap harinya. Kalau yang tidak pernah berdosa saja seperti ini, bagaimana aku dan kalian?.

Hadirin – hadirat, taubat itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Taubat itu adalah menyesali dosa kita dan berniat ingin meninggalkan apa yang telah kita perbuat dari dosa. Jika nanti berbuat lagi jangan difikirkan, itu adalah hari esokmu. Yang penting adalah dosamu yang lalu dan saat ini.
Bagaimana niatnya? Bila kau berniat “Rabbiy..Rabbiy.. (tuhanku.. tuhanku..) aku ini ingin meninggalkan dosa – dosaku dengan kesungguhan”, dan niat itu adalah taubat. Itu kemuliaan taubat tumpah padamu dan cinta-Nya Allah sangat memanjakan mereka – mereka yang bertaubat.
Hadirin – hadirat, semoga aku dan kalian di malam hari ini, di detik agung ini, di malam mulia ini, di majelis mulia ini, semua diterangi dengan cahaya kemuliaan taubat. Kita menyesal dan tidak senang dengan semua dosa yang pernah kita lakukan, semoga Allah beri kekuatan di hari esok untuk memberikan kekuatan bagi kita meninggalkan dosa – dosa kita.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Sebagian di hatinya berkata “aku ini terjebak dosa karena urusan – urusan nafkah” atau urusan lainnya, maka minta kepada Allah kemudahannya agar kau bisa lepas dari dosa itu. Kalau masalah nafkahnya membawa dosa, minta kepada Allah, berikan jalan padaku yang mudah agar mendapatkan nafkah yang lebih baik, atau dalam pekerjaan atau dalam rumah tangganya atau lainnya, adukan kepada Allah, “Rabbiy aku berbuat seperti ini bukan karena kemauanku tapi terjebak, maka tolonglah dengan kemudahan.
Hadirin – hadirat, Yang Maha Mendengar, mendengar semua getaran jiwamu siang dan malam.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, bagaimana indahnya Allah Swt berbuat kepada hamba – hamba yang dicintai-Nya. Semoga aku dan kalian dicintai Allah siang dan malam dan merindukan Allah, sebagaimana sabda Nabi saw “man ahabba liqa'iy ahbabtu liqa'ah” barangsiapa rindu jumpa dengan-Ku maka Aku pun rindu jumpa dengannya. (Shahih Bukhari), Sebagian orang berfikir kalau rindu jumpa dengan Allah, dirindukan Allah, cepat wafat dong??,
justru tidak, karena Allah Swt Maha Mampu Memanjangkan Usianya didalam kerinduannya kepada Allah agar semakin dahsyat rindunya, agar semakin dilimpahi kebahagiaan di dunianya, agar ia tahu bagaimana Allah memuliakan hamba – hamba yang rindu pada-Nya di dunia dan akhirat, karena Allah-lah Sang Pemilik dunia dan akhirat.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Kalau menyambung silaturahmi saja bisa meluaskan rezki kita, sebagaimana sabda Sang Nabi Saw riwayat Shahih Bukhari, Rasul saw bersabda “barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya maka ia menyambung silaturahminya”. Bagaimana orang yang menyambung silaturahmi cinta dengan Allah. Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, maka Allah akan luaskan rezkinya dhahiran wa bathinan, dunia wal akhirah. Semoga aku dan kalian di dalam kelompok orang yang rindu dan cinta kepada Allah Swt.

Hadirin – hadirat, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Rasul saw berjalan bersama para sahabatnya (dalam riwayat yang tsigah) maka lewatlah merangkak seorang bocah kecil menyeberangi jalan maka dalam salah satu riwayat Rasul saw mengambilnya, dalam riwayat lain Sayyidina Umar yang mengambilnya, “apakah bayi ini punya ibu?” maka tak lama keluarlah ibunya dari sebuah kemah dan berkata “ibni..ibni”, (anakku.. anakku..) mengambil anak itu, memeluknya dan menyusuinya. Maka para sahabat menangis melihatnya, Rasul saw bertanya “kenapa kalian menangis?, apa yang membuat kalian menangis?”, para sahabat berkata “kelembutan ibu itu kepada anaknya, kami terharu dan menangis wahai Rasul, betapa cintanya ibu itu kepada anaknya”. Rasul saw bersabda “Inallah arham bi’ibaadihi min hadzihi liwaladihaa” Allah lebih cinta dan sayang kepada hamba-Nya daripada anak ini kepada ibunya, lalu Rasul Saw bertanya apakah mungkin ibu ini melemparkan bayinya ke api?, (para sahabat menjawab) mustahil wahai Rasullulah…!”,. Demikian pula Allah Swt kepada hamba – hambaNya yang dicintai-Nya, akan selalu dibela oleh Allah Swt.

Diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad bahwa ketika kejadian seperti ini seorang wanita melihat Rasul saw, ia sedang membenahi kayu dan bara api yang menyala, lalu ia mengangkat bayinya “wahai Rasul aku sungguh tidak akan mungkin melemparkan bayiku ke dalam api, apakah Allah akan melemparkan hamba – hambaNya yang cinta kepada-Nya ke dalam api?”, maka Rasul Saw menutup wajahnya, menunduk dan menangis, seraya berkata : “demi Allah, sungguh Allah tidak akan memberi siksaan dan kehinaan kepada mereka yang mengucap tiada Tuhan selain Allah”. Semakin sempurna kalimat ini di sakaratul maut kita, semakin lepas kita dari siksanya Allah Swt. Sebagaimana sabda Sang Nabi saw riwayat Shahih Bukhari “man qaala lailahailallah khaalishan min qalbihi haramahullahu alannaar” barangsiapa yang mengucap lailahailallah dari dasar hatinya dan ia wafat maka Allah haramkan ia dari api neraka. (Shahih Bukhari)

Hadirin – hadirat, semoga aku dan kalian dalam cahaya keagungan lailahailallah…

Diriwayatkan didalam riwayat yang tsigah (tsiqah : kuat), ketika seorang yang cinta kepada Allah di masa hidupnya tapi ia sudah terlanjur banyak berbuat dhalim kepada orang lain maka ketika didalam sidang akbar ia dihadapkan ke hadapan Allah Swt dan ditimbang amalnya, sebagaimana hadits yang telah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu bahwa disana itu pertimbangan amal, bukan pertimbangan harta dan dinar dan dirham, jadi alat tukarnya pahala dan dosa. Orang yang pernah berbuat dosa dan belum sempat meminta maaf akan diambil pahalanya oleh orang yang pernah ia dhalimi. Kalau pahalanya sudah habis untuk membayar hutang – hutang dosanya pada makhluk, maka masih tersisa hutang – hutang dosa, diambil dosa orang itu ditangguhkan padanya sebesar dosanya. (Shahih Bukhari)

Ketika seorang hamba yang mencintai Allah, berdiri di sidang akbar, ia banyak berbuat dhalim kepada orang dan belum sempat meminta maaf dan memohon ridho, namun Allah tidak membiarkan hamba yang mencintai-Nya ini masuk ke dalam neraka, Allah membelanya. “Hamba-Ku apa yang kau dapat dari mizan (timbangan), bagaimana timbangan amalmu?”, “habis Rabbiy, masih tersisa dosa – dosa orang ini yang ditumpahkan padaku, aku harus masuk neraka untuk menebusnya”. Allah bertanya kepada sang penuntut “engkau pernah didhalimi oleh orang yang cinta kepada-Ku ini?”, “betul wahai Allah”, “kenapa engkau tidak memaafkannya?”, “wahai Allah, kalau aku memaafkannya, aku pasti masuk neraka, karena aku pun mempunyai tunggakan dosa yang banyak. Tidak kumaafkan pun aku masih harus masuk neraka, apalagi kalau aku memaafkannya, makin lama aku di neraka”, maka Allah berkata “lihat ke atas”, lalu ia pun melihat ke atasnya, ia lihat istana cahaya yang megah dan mewah. Bergetar ia melihat istana itu dan berkata “Rabbiy, untuk siapa istana itu?”, Allah berkata “untukmu, kalau kau mau memaafkan hamba-Ku yang Ku-cintai”, Allah tidak mau hamba yang merindukan dan mencintai-Nya menyentuh neraka, Allah tebus dosanya, mudah bagi Allah memberikan surga kepada orang itu. “Ini untukmu kalau kau mau memaafkan hamba-Ku yang Ku-cintai”, “kumaafkan wahai Allah, kumaafkan, aku bebas dari neraka, Alhamdulillah aku mendapat surga yang demikian megahnya”. Maka Allah persilahkan hamba-Nya yang dicintai-Nya masuk ke dalam surga. Semoga Allah Swt menjadikanku dan kalian hamba yang dicintai-Nya dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ya Rahman Ya Rahim.

Hadirin – hadirat, Idul Fitri telah dekat di hadapan kita. Tinggal kurang lebih 4 malam lagi ramadhan, sekitar 4 malam lagi, setelah itu selesai. Bagaimana dengan ramadhan kita yang lalu? Maafkan semua orang – orang yang pernah berbuat salah padamu, jangan jadikan jiwa kita mendendam, karena apa? karena dengan memaafkan dosa orang lain kepada kita, Allah akan pemaaf kepada kita. Jangan maafkan orang itu yang berbuat jahat padamu karena dia. Tapi maafkan karena Allah…., Aku memaafkannya bukan karena dia, tapi karena Allah, aku punya dosa kepada Allah dan punya salah kepada Allah, kalau aku tidak maafkan orang ini, bagaimana? aku malu minta maaf kepada Allah atas dosaku. Tapi sebaliknya, kalau kau melupakan orang yang pernah berbuat jahat padamu, tanpa menunggu ia meminta maaf, kau sudah maafkan atas nama Allah Swt dan dimaafkan. Allah Swt akan malu tidak memaafkan.
Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika seorang yang selalu menghutangi orang lain, ia menghutangi harta, dihutangi oleh orang lain. Ia berkata kepada pembantunya “kalau orang yang susah, biar.., biar saja.., jangan ditagih hutangnya”. Di saat hari kiamat, dia ditagih oleh dosa – dosanya, maka Allah berkata “biarkan dia, biarkan, maafkan ia”. Di masa hidupnya ia pemaaf, maka di hari kiamat Allah malu untuk tidak memaafkannya.
Semoga Allah menerangi jiwaku dan jiwa kalian dengan sifat pemaaf. Orang yang dibenci, di fitnah dan di musuhi itu (misalnya aku, misalnya engkau) kita tidak mendendam, kita makin mulia di sisi Allah, dia makin hina disisi Allah. Kita dapat pahala tanpa beramal sudah ada tumpukan pahala karena memaafkan kesalahan orang pada kita. Orang jahat pada kita, dhalim pada kita, kita maafkan, kita makin diangkat oleh Allah dan dilimpahi keberkahan, dia makin hina disisi Allah. Maka apa ruginya kita memaafkan orang lain?, jika dengan itu kita mendapatkan anugerah dari kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah membersihkan jiwa kita dari sifat dendam dan sifat musuh kepada orang lain, terutama saudara – saudari kita muslimin – muslimat.

Sampailah kita kepada hadits mulia yang kita baca bersama – sama tadi. “Ni’mataani maghbubun fihima katsirun minannaas, ashshihatan walfaraaghu” Dua hal kenikmatan yang sering dilupakan oleh orang, kesehatan dan kekosongan waktu. Kesehatan sering dilupakan oleh orang, demikian pula kekosongan waktu. Ini dua kenikmatan besar dari Allah untuk kita mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, kesuksesan, kesejahteraan. Ini anugerah waktu diberi oleh Allah, kesehatan dan kekosongan waktu. Dipakai apa kekosongan waktu kita dan kesehatan kita?. Kalau sudah sakit, hadirin – hadirat sungguh kenikmatannya sehat baru terasa. Barangkali kalian juga sering merasakan sakit. 

Saya pernah enam bulan di kursi roda, tidak bisa berdiri. Kata dokter perlu delapan tahun baru bisa berdiri. Tapi Alhamdulillah dengan doa Guru Mulia, beliau mendoakan dan selesai. Tapi enam bulan saya di kursi roda. Itu enam bulan hadirin.., melihat gelas di depan meja, saya tidak bisa berdiri mencapainya. Iri melihat orang yang bisa berjalan. Rabbiy alangkah nikmatnya berjalan... dua meter dihadapanku, aku tidak bisa mengambilnya, tidak bisa turun dari ranjang, harus nunggu ada yang membawakan kursi roda. Gelas di hadapan dua meter tidak bisa meraihnya, haus harus nunggu orang datang. Ini keadaan kenikmatan bagi mereka yang berjalan,terasa sekali nikmatnya. Betapa indahnya mereka bisa berjalan, kesana – kemari, bisa keluar rumah, bisa kemana – mana, Saya duduk di kursi..., Itu hadirin – hadirat, tentunya kita tidak menginginkan datangnya musibah tapi ingatlah kenikmatan dari Allah, kesehatan kita dan kelowongan waktu. 

Kelowongan waktu itu, kalau ada waktu kosong gunakan untuk hal yang abadi, afdhol. Gunakan untuk hal yang mencari kemuliaan di dunia, jika niatnya baik maka akan baik. Namun untuk hal yang abadi, afdhol. Kalau cuma beberapa menit ambil wudhu, sudah, sepanjang kau belum batal (maka) jadi pahala. Duduk, berdiri, berjalan, keluar rumah, jadi pahala itu selama engkau masih dalam keadaan suci dan berwudhu. Berapa menit wudhu?, (sekitar 2 menit saja atau kurang) kosong waktu 2 menit, wudhulah (maka) sampai kau batal wudhu, kau dalam ibadah. 

Hadirin – hadirat, demikian indahnya kekosongan waktu diberikan oleh Allah Swt maka sempurnakanlah. Akan datang masanya kita akan kehilangan semua waktu kita dan Rasul saw bersabda riwayat Imam Bukhari didalam Shahihnya. “jika datang waktu kosong di waktu sore, jangan menunggu waktu kosong besok pagi, apapun yang bisa kau perbuat dari kemuliaan, perbuatlah. Bisa silaturahmi, silaturahmi, tidak bisa dengan telpon, tidak bisa telepon, (maka) sms, tidak bisa sms, berdoa untuk muslimin – muslimat. Berbuat apapun, jangan sampai tunggu besok pagi, sekarang jalankan selama ada waktu yang kosong. Kalau sudah datang waktu sore, jangan menunggu (menunda berbuat baik) waktu pagi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan pada waktunya. Ambil waktu sehatmu dari sebelum waktu sakitmu dan ambil kesempatan mulia di masa hidupmu sebelum engkau wafat. 

Hadirin – hadirat, berlian – berlian kehidupan yang abadi diajarkan oleh Nabi kita Muhammad saw dan tentunya jangan lupa mencintai Rasulullah Saw. Manusia yang paling mencintai umatnya, paling mencintaiku dan kalian dunia dan akhirat. Dan ucapan ini merupakan firman Allah “laqad jaa-akum rasulun min anfusikum a’ziizun a’laihi maa a’nittum hariishun a’laikum bil mu’miniina raufurrahiim” datang kepada kalian seorang Rasul dari bangsa kalian, sangat berat memikirkan musibah kalian dan sangat menjaga kalian dan berlemah lembut kepada umatnya yaitu orang – orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. At Taubah : 128)
Cinta beliau abadi kepada umatnya, sebelum umatnya mencintai beliau saw. 

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Kerinduan Rasul saw pada orang yang rindu pada beliau sudah disampaikan di masa hidup beliau bahwa akan datang orang yang rindu kepada beliau setelah beliau wafat. Seraya bersabda sambil menangis “aku rindu pada saudara – saudaraku”, para sahabat berkata “kami saudaramu ya Rasulullah”, Rasul berkata “mereka itu adalah orang – orang yang hidup setelah aku wafat, mereka ikut agama Islam dan mereka itu rindu melihat wajahku lebih dari harta dan keluarganya”.(Shahih Muslim) 

Maksudnya (diantaranya) perkumpulan seperti ini, kita meninggalkan harta dan keluarga kita. Rumah kita tinggal, harta kita tinggal, kesibukan tinggal, duduk disini. 

Disini kita tidak melihat Rasulullah (saw), kalau kita melihat Rasul (saw) barangkali dari minggu lalu kita tidak keluar dari tempat ini untuk menunggu munculnya wajah Sayyidina Muhammad Saw. Semoga Allah memuliakanku dan kalian yang mencintai Nabi kita Muhammad Saw. Ada beberapa dari saudara – saudara kita, bukan satu orang yang bermimpikan disaat acara di Masjid At-Tiin bahwa Ahlulbadr bersama kita berjumpa dengan Rasulullah Saw. Semoga ini menjadi qabul bagi kita bersama Ahlulbadr di dunia dan akhirat. Di dunia dalam keberkahan Ahlulbadr, di akhirat bersama Ahlulbadr dan Imam Ahlulbadr Sayyidina Muhammad Saw dalam kedamaian. Ya Rahman Ya Rahim

Hadirin – hadirat, Al Imam Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atsaqafi alaihi rahmatullah, (atasnya Rahmat Allah swt) seorang Al hafidz dan seorang muhaddits yang meriwayatkan lebih dari 5000 hadits,. Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atsaqafi melakukan 7X pergi haji, pahalanya dihadiahkan untuk Rasulullah Saw. Dan ia menyembelih 12.000 ekor kambing, pahalanya untuk Rasulullah Saw. Dan ia berkata “aku meng-khatamkan 12.000X khatamul qur’an, kuhadiahkan untuk Rasulullah Saw”. Hadirin, siapa diantara kita berlomba – lomba mengirim hadiah untuk Sayyidina Muhammad Saw. Semoga acara di At-Tiin itu menjadi hadiah bagi Rasulullah Saw. Amin allahumma amin. 

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hal yang perlu saya jelaskan sebelum saya menyelesaikan tausiyah dan doa. Banyak muncul pertanyaan tentang zakat profesi. Zakat profesi tidak diakui dalam seluruh madzhab. Zakat setiap bulan tidak diakui oleh seluruh madzhab. Bahwa semua madzhab, Imam Hambali, Hanafi, Syafi’i, Maliki tidak mengakui adanya zakat bulanan atau zakat penghasilan. Yang ada adalah zakat harta dan zakat tijarah (dagang). Zakat cuma ada 7, tidak ada lebih dari itu :
1. Zakat Ma’din (tambang emas, perak, besi atau lainnya) semua tambang itu ada zakatnya. Zakatnya begitu dapat langsung dikeluarkan zakatnya, bukan penghasilan tapi dari tambang bumi.
2. Zakat Rikaz (harta karun) pendaman harta kalau ditemukan ada zakatnya
3. Zakat Ni’am (hewan ternak) kalau memelihara hewan berupa kambing, unta, sapi, kerbau ada zakatnya
4. Zakat Tsimar (buah – buahan) 
5. Zakat Maal (harta) 
6. Zakat Tijarah (perdagangan) 
7. Zakat Fitrah (badan)

Dan tidak ada lagi zakat penghasilan. Jadi sebagian orang yang mengada – adakan di masa sekarang ini sungguh bukan hal yang benar. Kalau disebut shadaqah penghasilan atau shadaqah profesi kita terima, Karena shadaqah hukumnya sunnah, boleh – boleh saja. Tapi kalau zakat, zakat itu fadhu a’in, tidak boleh ditambah – tambah fardhu a’in. Kalau sudah fardhu a’in tidak dilakukan, orang yang tidak mengeluarkan zakat, maka halal harta dan darahnya. Jadi tidak bisa zakat profesi diada – adakan sebagai zakat. Kalau shadaqah profesi / penghasilan setiap bulan mau shadaqah 2,5%, jangankan setiap bulan, mau setiap hari pun shadaqah merupakan sunnah Nabi saw. Tentukan setiap hari shadaqah, atau hari Jum’at shadaqah atau tiap bulan potong gaji, mau 2,5%, mau 10%, mau 20%, mau 50%, mau seluruhnya, silahkan tapi shadaqah…., jangan bicara zakat.
Kalau zakat adalah hal yang fardhu a’in dan tidak bisa ditambah atau dikurangi. Kalau alasan mereka zakat profesi katanya zaman sekarang banyak orang keluar dari Islam karena kemiskinannya, jadi harus ditambah. Kalau begitu banyak yang maksiat, shalat ditambah menjadi 7X setiap harinya??. Tidak bisa begitu tentunya, shalat fardhu tetap 5 waktu dalam jumlah 17 rakaat, tidak bisa ditambah lagi, kalau mau ditambah lagi dengan hal – hal yang sunnah maka afdhal. 

Demikian pula zakat, tidak bisa ditambah lagi dan tidak ada dalilnya. Dalil yang dipegang oleh mereka yang mengatakan bahwa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan ra menjalankan setiap bulan mengeluarkan zakat atau shadaqah, Dikatakan oleh para muhaddits kita bahwa itu untuk dirinya. Kalau untuk dirinya maka itu terserah yang mengeluarkan setiap bulannya. Misalnya saya atau kalian tiap bulan mengeluarkan sekian, terserah, tapi ia tidak memerintahkan untuk yang lainnya tapi untuk dirinya sendiri.
Dan dijelaskan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Nawawi menjawab tentang masalah ini bahwa orang – orang yang mengatakan adanya zakat selain haul dan nishob (haul : sempurna setahun, Nishab : batas minimal harta yg dikenai zakat) adalah mereka tidak memperhatikan hadits shahih riwayat Imam Malik dari Nafi’ dari ibn Umar yang ini dikatakan oleh Imam Bukhari sebagai silsilah Dzahabiyah (rantai sanad hadits tekuat), maksudnya silsilah perawi hadits yang paling shahih adalah dari Imam Malik dari Nafi dari Ibn Umar dari Rasulullah saw yang mengatakan tidak ada orang yang zakat harta kecuali melewati 1 tahun baru bisa dizakati kalau melewati nishob. Apa itu nishob? Nishob itu adalah batas minimal, kalau lebih dari itu maka wajib mengeluarkan zakat harta. Jadi (jika) mempunyai (gaji/penghasilan) bulanan, tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat. Tapi kalau menaruh uang, terus disimpan sampai setahun dan tidak kurang dari nishob. Berapa nishob?, Nishob adalah harga 84gram emas murni. Jadi seharga 84gram emas murni itu berbeda – beda, setiap hari berbeda. Berapa 84gram emas murni itu? seandainya 84 juta (misalnya) berarti kalau mempunyai harta lebih dari 84 juta sampai setahun tidak kurang, kena zakatnya 2,5% itu zakat harta.
Tapi kalau profesi dan gaji tiap bulan tidak ada zakatnya. (mengada adakan zakat bulanan pada gaji dan profesi) Itu adalah bid’ah dhalalah yang diada – adakan dengan riwayat yang tidak shahih. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Kita bermunajat kepada Allah Swt, masih tersisa 4 malam dihadapan kita. Semoga Allah muliakan kita didalam keluhuran, di malam yang agung ini dan juga jangan lupa acara – acara kita masih di depan kita. Malam selasa yang akan datang, mereka yang sudah mudik semoga diberi keselamatan oleh Allah Swt, mereka yang ada di Jakarta, punya kesempatan hadir, majelis ini tidak pernah libur selama saya masih hidup, insya Allah majelis ini berlanjut walau malam lebaran. 

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga Allah tidak mengurangi waktu kita untuk jumpa dengan Rasulullah Saw di surga firdaus kelak, amin allahumma amin. Dan juga malam sabtu yang akan datang, ziarah kubronya bukan malam mingu tapi malam sabtu karena malam 29 kita ziarah kubro ke luar batang dari majelisnya di masjid walikota depok. Dari sana konvoi ke luarbatang, insya Allah. Saya harapkan jamaah semuanya jangan mendahului ke makam, ikut duduk diacara bersama kemuliaan shalawat Rasul Saw di majelis, baru menghadap ziarah ke maqam Al Habib Husein bin Abibakar Alaydrus luar batang. 

Demikian hadirin – hadirat, yang memiliki waktu malam sabtu yang akan datang. 

(mengenai) Malam ahad, (yaitu) malam minggu, kita lihat keputusan, kalau malam lebaran ya takbiran malam minggu, atau malam senin (lebaran) kita lihat keputusannya. 

Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.
Kita bermunajat kepada Allah demi malam – malam agung nan mulia ini, Rabbiy jadikanlah malam ini malam termulia sepanjang usia kami, pastikanlah Kau menjawab segenap doa di malam mulia ini. Ya Rahman Ya Rahim, doa kami, munajat kami, harapan kami, kesusahan kami, keluh kesah kami, kami angkat detik ini dari semua perasaan dan kami tumpahkan di samudera keluasan-Mu. Rabbiy Rabbiy pastikan kami menjadi hamba yang paling Kau cintai dan jadikan kami bersama orang – orang yang Kau cintai, limpahi kami kebahagiaan dunia dan akhirat, limpahi kami kedamaian dunia dan akhirat, juga bagi ayahbunda kami, juga bagi masyarakat kami, bagi bumi Jakarta dan seluruh wilayah muslimin. Ini bangsa kita, bangsa muslimin terbesar di muka bumi, limpahi kemakmuran, tenangkan bumi dari musibah, tenangkan bumi dari gempanya, tenangkan lautan dari tsunami, tenangkan angin dari segala puyuhnya, tenangkan hujan dari segala banjirnya. Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah hari – hari kami dipenuhi Rahmat, jadikanlah siang dan malam kami dalam cahaya Rahmat, inilah doa di malam agung. Ya dzaljalali wal ikram, kabulkanlah dan pandang semua niat dan hajat semua hadirin – hadirat, pandang seluruh wajah dengan semua harapan mereka yang berpadu pada nama-Mu Yang Maha Luhur, semua hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, kabulkanlah Rabbiy

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. didalam nama-Mu tersimpan segenap anugerah, dalam nama-Mu tersimpan segala kenikmatan dan kebehagiaan, dalam nama-Mu tersimpan penciptaan dunia dan akhirat, Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. didalam nama-Mu tersimpan takdir kami, ketentuan hidup kami dalan nama-Mu, Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahim

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah
Kita teruskan dengan munajat meminta kepada Allah disingkirkan segala musibah, kesusahan, dan kesulitan kita dengan bertawassul kepada Ahlulbadr. Ya tafadhol masykura.. Malam selasa depan sudah bulan syawal dan majelis mulai pukul 21.00 WIB. karena ramadhan (majelis dimulai) pukul 21.30 atau 21.15 WIB karena ada tarawih, jadi kalau selain ramadhan majelis mulai jam 9 malam. 

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, saya mohon doa karena tempat kita ini sudah semakin Allhamdulillah padat dan tidak mencukupi. Kita mau pindah juga, jamaah berat terutama masyarakat juga berat, sebagian besar jamaah juga berat bila pindah tempat. Lantas apa yang bisa kita perbuat?, Kita berharap dan saya mohon doa pada jamaah juga agar turut mendoakan tempat sebelah ini insya Allah akan kita bebaskan untuk memperluas Majelis Rasulullah Saw…, Semoga tempat sebelah ini bisa kita bebaskan dan menjadi tanah daripada majelis kita diperluas ke sebelah ini, jadi wilayahnya bisa dipadu majelisnya.. tanah sebelah bisa kita bebaskan untuk milik Majelis Rasulullah Saw (jika ada kemampuan).
Cukup luas tanah disebelah ini, bisa dibebaskan sekaligus untuk markas kita yang selama ini masih mengontrak dan ini niat hanya bergantung kepada Allah Swt dan menggantungkan dengan doa (belum ada kemampuan dananya), dengan amin, harapan kalian, semoga doa ini diijabah. Amin allahumma amin. Kita mintakan doa penutup (pada) Guru kita yang kita cintai Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Attas tentunya dengan talqin, ya tafadhol masykura. 

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
                                                           
                                                                             posting dari(http://majelisrasulullah.org/)
Keadaan Jenazah Ketika Wafat

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ 

(صحيح البخاري)


Sabda Rasulullah saw :
“Jika telah diletakkan jenazah untuk diusung di leher mereka, jika Jenazah orang shalih maka ia (ruh nya) berkata : percepatlah..!, jika bukan orang baik maka ia berkata : wahai celakalah tubuh, kemana mereka akan membawa tubuh ini..!, suara itu didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, jika manusia mendengarnya ia akan roboh pingsan/wafat” (Shahih Bukhari) 



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَااْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذَا اْلجَمْعِ اْلعَظِيْمِ 

Limpahan Puji ke hadirat Allah SWT Yang Maha Luhur, Maha penguasa tunggal dan abadi sepanjang waktu dan zaman , Maha menciptakan kehidupan dan Maha melimpahkan anugerah tiada berhenti dan rahmatNya yang tiada pernah terputus, berjuta-juta kenikmatan bagaikan rantai yang terus tersambung kepada kehidupan segenap hambaNya, kenikmatan hidup kenikmatan bergerak kenikamatan diam kenikmatan melihat dan lain sebagainya dari kenikmatan yang terus mengalir di muka bumi ini, bagaikan rantai-rantai kasih sayang Ilahi yang langsung bersambung kepada segenap hamba-hambaNya, dan itu merupakan seruan dan merupakan isyarat dan juga merupakan panggilan dari Allah SWT agar kita menerima cintaNya, menerima kasih sayang dan kelembutan Ilahi, sebagaimana firmanNya :

وَإِذَا سَألَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186 

“ Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhamamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu”. ( QS. Al Baqarah : 186 )

Hadirin hadirat…فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ “Sungguh Aku ini Maha dekat”, karena memang selalu melimpahkan kenikmatan dan anugerah kepada hamba lebih daripada segenap hamba satu sama lain. Tiadalah seorang kekasih yang pemberiannya melebihi pemberiaan Allah kepada kekasihNya di antara makhluk dan lainnya, namun Allah Maha Raja alam semesta terus memberi dan menganugerahi hamba-hambaNya dan itu adalah bukti yang terjelas atas makna kalimat “ Sungguh Aku Maha dekat”, karena memang tidak ada yang lebih dekat kepada kita dari Allah SWT dan kedekatan tentunya bukan kedekatan jarak yang bisa dibatasi dengan jarak, tapi kedekatan ini adalah kedekatanNya yang teramat dekat melebihi segenap kasih sayang hamba satu sama lain, dan inilah maksudnya, فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ paling cepat memaafkan segenap kesalahan, paling cepat menjawab tobat dan penyesalan hamba diganti dengan maaf dan limpahan pahala, sebagaimana firman Allah SWT :

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ وَعَمَلَ عَمَلاً صَالِحًا فَألُئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا . الفرقان : 70 ) 

“Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan , maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. ( QS. Al Furqan : 70 )

Inilah Yang Maha baik dan tiada kasih sayang melebihi ini, kalau seandainya kita mempunyai orang yang bersalah kepada kita atau berbuat jahat kepada kita belum tentu kita memaafkannya, kalau kita maafkan pun apa iya kita akan memberi sekedar kesalahannya itu diganti dengan anugerah dan pemberian?? Itu hanya ada pada Allah SWT :

يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ 

“ Allah ganti kejahatan (dosa) mereka dengan kebaikan “

Sebanyak apa dosanya di ganti dengan pahala, karena mau mendekat kepada Allah SWT. Semoga seluruh jiwaku dan kalian setiap waktu dan saat bercahaya dengan cahaya keinginan dekat dengan Allah SWT, yang dengan itu pengampunan dan anugerahNya dunia dan akhirah bathinan wa zhahiran selalu berlimpah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sampailah kita pada hadits mulia ini, dimana Rasul SAW menjelaskan bagaimana keadaan kematian, ketika seseorang telah wafat jika ia jenazah orang yang baik maka ketika jenazah itu di angkat dan diusung di atas leher orang-orang yang mengangkatnya di pundak mereka, maka di saat itu berkatalah ruh nya :

قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ 

“ Percepatlah percepatlah (sampai ke kuburku)”

Karena ia tau ia akan sampai kepada kebahagiaan yang kekal, ia akan sampai kepada keluhuran, ia tak akan lagi menemui fitnah dan kesusahan, ia tak akan lagi menemui musibah dan masalah, selesai sudah. Maka ruh itu berkata “ percepat percepat kalian untuk menguburkan ku”. Kalau bukan orang yang shalih, orang yang banyak berbuat jahat maka ruh nya berseru :

يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُوْنْ بِهَا ( رواه البخاري 

“ Sungguh celaka mau dibawa kemana jenazah ini “. ( HR. Bukhari) 

Mau di bawa kemana jenazahku ini, mau di bawa kemana tubuhku ini betapa meruginya ia,celaka lah aku celakalah tubuhku yang penuh kesalahan ini karena akan dimintai pertanggung jawaban. Maka Rasulullah SAW bersabda suara itu di dengar oleh seluruh apa-apa yang ada di alam ini kecuali manusia,

يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْئٍ إِلَّا اْلإِنْسَانُ لَوْ سَمِعَهُ لَصَعِقَ ( رواه البخاري 

“Segala sesuatu mendengar suara itu (jeritan ruh) kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya maka ia akan pingsan ”. ( HR. Bukhari ) 

Hadirin hadirat…
Dari hadits ini kita memahami dan sedikit memecah pertanyaan yang sering muncul kepada saya, apakah iya orang yang sudah wafat itu bisa menghantui? (jawabannya adalah) Tidak bisa, kecuali para shalihin. kalau orang-orang shalih, orang baik maka bisa saja ia mengunjungi keluarganya atau kerabatnya untuk menyampaikan wasiat bukan menghantui, kalau menghantui tidak bisa. Orang yang sudah wafat itu kalau dia orang yang banyak dosa maka ia dipenjara untuk menebus dosa-dosanya, kalau seandainya ia orang yang baik maka ia di istirahatkan. Jadi yang menghantui itu adalah makhluk ghaib yang disebut jin atau dari kaum syaitan bukan orang itu barangkali berwujud dengan wujud orang itu, nafikan (hilangkan/jangan percaya) segala hal seperti ini dari fikiran kalian. Orang yang wafat akan menjadi hantu, mengganggu manusia, jangankan mengganggu manusia, ia sibuk dengan dirinya sendiri tidak sempat mengganggu orang lain. Ketika ia berdosa ia sibuk bertanggung jawab atas dosanya tidak bisa mengganggu apalagi mendatangi orang lain.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Ingatlah suata saat kelak bahwa semua teman kita akan kita tinggalkan, dan di saat itu kita hanya sendiri bersama Allah. Coba kita renungkan jika seandainya dipastikan pada diri kita, kita akan berpindah ke suatu tempat ke suatu hutan belantara yang ada pemiliknya, di situ banyak binatang buasnya dan di situ juga ada istana-istana mewah, apa yang akan kau perbuat ? Surat sudah datang kepadamu pasti kau akan pindah di waktu yang kau tidak tahu, bisa saat ini, bisa besok,atau tahun depan tapi pasti datang, apa yang kita perbuat ? Kita akan pindah kesana, di sana itu tidak ada orang yang kita kenal kecuali hutan belantara tapi pemiliknya memberikan istana-istana yang mewah, tempat yang indah dan tempat yang mulia untuk tamu-tamu nya, kalau tidak menjadi tamunya kita di dalam hutan belantara yang penuh binatang buas yang belum tentu ada makanan dan barangkali ada jurang api, barangkali ada perangkap dan lain sebagainya, maka apa yang kita perbuat ? Tentunya kita ingin menjalin hubungan dengan sang pemilik tempat tersebut, agar apa ? Agar kita sampai disana menjadi tamunya yang mulia, (maka) lebih-lebih lagi di alam barzah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sebelum kita ingin menjalin hubungan dengan Allah, Allah SWT telah menawarkan jalinan hubungan dengan kita dengan Alqur’an Al Karim, dengan tuntunan para Nabi dan Rasul. Allah SWT pemilik alam barzah dan alam akhirah sudah menginginkan kita mendekat denganNya, ingin kau menjadi tamuNya yang mulia di dunia, tamunya yang mulia di alam kubur, tamunya yang mulia di alam barzah , tamunya yang mulia di alam akhirah nanti, ini sudah ditawarkan kepada kita, cuma kita yang terus menolaknya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Terimalah tawaran kasih sayang Ilahi ini, ingatlah nanti kita akan pindah ke tempat itu bukan tempat yang jauh bagaikan dua ruangan yang terpisah dengan satu pintu, masing-masing pindah semuanya akan melewati pintu itu pindah kesana, kalau ia orang yang banyak berbuat jahat maka keadaannya seperti orang yang tadi di sebut dalam hadits, ia berkata “sungguh celaka mau di bawa kemana jenazahku itu yang penuh dengan dosa, nanti akan dipertanggung jawabkan oleh Allah SWT”, tapi kalau ia orang yang baik, ia akan berkata “percepatlah aku ke kuburku, aku akan sampai ke tempat kebahagiaan”.<./p> 

Hadirin hadirat…Di sana keputusan tergantung pada Yang Maha Abadi, Allah. Di mana tempat kita, apakah di dalam penjara alam kubur, penjara alam kubur lebih dahsyat dari penjara di dunia, (dan selain itu) ada yang ditidurkan, ada yang diperjumpakan dengan arwah kerabatnya yang sudah wafat juga, ada yang diperjumpakan dengan Rasulullah SAW, mana yang kau pilih, ini pilihan sudah di hadapan kita, A B C D E F mana yang kau pilih?, Hadirin hadirat..beruntung mereka yang memilih ingin bersama ruh Sayyidina Muhammad SAW, maka jawablah dengan perbuatan, jawablah dengan niat, jawablah dengan penyesalan atas dosa-dosa kita, jawablah dengan membenahi diri kita.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul SAW menyampaikan hadits ini, seraya Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, sebagian Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan kalau sampai suara itu di dengar oleh manusia maka akan mati, maka itu adalah jeritan jenazah yang pendosa, kalau jenazah yang shalih maka orang yang mendengarnya akan membuatnya tenang, namun pendapat lain di dalam Fathul Bari Al Imam Ibn Hajar menjelaskan pendapat yang kedua adalah bahwa manusia tidak bisa mendengar suara ruh, kalau manusia mendengar suara ruh maka mereka akan kaget dan terguncang ruhnya dan wafat, karena suara ruh jauh lebih tajam daripada suara lisan, karena suara ruh sudah di pendam di bentengi atau di saring oleh getaran pita suara, kalau seandainya suara ruhnya masih terdengar maka akan membuat manusia wafat, namun Al Imam Ibn Hajar menukil pendapat yang pertama bahwa suara ruh itu tidak bisa di dengar dan jeritan ruh para pendosa itu akan membuat manusia ketakutan. Demikian hadirin hadirat…tentunya kita berharap tidak satu pun diantara kita yang hadir ini dalam kehinaan di alam kubur. Semoga kita semua saat jenazah sudah di angkat,saat tubuh kita di usung ruh kita berkata قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ “ percepat, percepat”, segera mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Panjangkan usia kami dalam keberkahan dan kemakmuran dalam hidayah dan kasih sayangMu Ya Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Sayyidina Sa’ad ibn Ubadah RA sakit, Rasul SAW menjenguknya bersama Sayyidina Abdurrahman Ibn ‘Auf dan para sahabat lainnya, ketika sampai Sa’ad bin ‘Ubadah dalam keadaan sakit dan tersengal-sengal dan dikira sudah sakaratul maut maka Rasul SAW berkata “ apakah dia sudah menghembuskan nafas yang terakhir”?, maka para sahabat berkata “ tidak Wahai Rasulallah, belum wafat”, maka Rasul SAW melihat Sa’ad bin Ubadah lalu mengalirlah air mata Rasulullah SAW, para sahabat melihat Rasulullah SAW mengalirkan air mata, merekapun ikut menangis juga. Maka Rasulullah SAW berkata : 

أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ . ( صحيح البخاري 

“ Bukankah kalian mendengar? Bahwa Allah tidak mengazab air mata yang mengalir dan tidak juga hati yang sedih,akan tetapi Allah mengazab sebab ini ( sambil menunjuk ke lisannya SAW ) atau dikasihi sebab lisan. ( HR. Bukhari )

Maksudnya Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menangisi mayyit itu yang paling baik kalau tidak bisa bertahan maka jangan bersuara, cukup mengalirkan air mata saja, tapi jika bersuara pun hal ini bukan hal yang mungkar dan membuat mayyit tersiksa, tidak. Tapi yang diharamkan adalah niyaahah, niyahah itu sampai menarik rambut dan menjerit – jerit dan meronta-ronta lalu menyalahkan takdir, tidak menerima takdir, ini yang disebut niyahah. Kita lanjutkan hadits Rasul SAW 
“ Tidakkah kalian mendengar suara tangisku ”, kata Rasul SAW tentunya para sahabat mendengar. Maka Rasul SAW berkata Allah itu tidak akan marah kalau seandainya kita mengalirkan air mata kesedihan atau hati kita bersedih atas saudara kita yang wafat, tidak akan murka Allah, namanya kekasih di tinggal oleh orang yang dicintainya, anaknya kah, suaminya kah, temannya kah, tentunya ia menangis dan sedih, maka Allah tidak akan murka akan hal itu tetapi Allah bisa murka karena ini ( seraya menunjuk ke lidah beliau) atau mengasihani dan melimpahkan kasih sayang sebab lidah. Maksudnya apa? Allah SWT bisa murka karena ucapan kita, Allah juga bisa menyayangi kita karena ucapan kita , demikian pula jenazah, akan menyulitkannya kalau keluarganya terus tidak menerima takdir kematiannya ( misalnya berkata : aku tidak rela saudaraku ini mati, kenapa takdir begini, kenapa Allah tidak adil ) hal itu akan memberatkan jenazah, karena Allah akan menuntutnya, engkau tidak mengajari saudara, kerabat dan keluargamu tentang kesabaran? Dan sebaliknya Allah bisa mengasihi jenazah kalau di doakan oleh keluarganya dan kerabatnya .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..

أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ 

Ingatlah ucapan ini, hati-hatilah Allah itu bisa murka atau melimpahkan kasih sayang karena ucapan lidah kita. Jadi, kelanjutannya adalah memperbanyak doa menambah kasih sayang Allah kepada kita, memperbanyak zikir menambah kasih sayang Allah kepada kita, oleh sebab itu berkumpul untuk mendoakan jenazah dan lain sebagainya sudah jelas hadits ini bisa di angkat sebagai dalil, bahwa orang yang di dalam kubur sungguh mendapat kasih sayang sebab lisan, ucapan zikir seperti tahlil dan lain sebagainya, dan tentunya di dalam seluruh mazhab telah berittifaq semua amal pahala yang dikirimkan kepada yang wafat sampai kepada yang wafat. Dan yang disebut putus amalnya adalah amalnya dia karena dia tidak bisa beramal lagi kecuali tiga hal saja yaitu shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya dan ilmu yang bermanfaat, selain itu tidak ada lagi dia bisa beramal, namun amal orang lain yang dikirimkan tentunya hal itu sampai dan hal itu sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelum semua orang melakukannya, bahkan Rasulullah SAW mengirimkan pahala untuk semua yang hidup dan yang wafat . Diriwayatkan dalam Shahih Muslim saat Rasulullah SAW menyembelih kurban seraya berkata :

اَللَّهُمَّ فَتَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَمِنْ آلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ 

“ Wahai Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan dari seluruh ummat Muhammad “

Sembelihan untuk seluruh ummat beliau yang masih hidup,yang sudah wafat atau yang belum lahir di masa itu kebagian dari pahala kurbannya Rasulullah SAW, demikian hadits riwayat Shahih Muslim.

Hadirin hadirat…
Lantas hadits yang tadi disebutkan:

إِنَّ اْلمَيِّتَ لَيُعَذَّبَ بِبُكَاء أَهْلِهِ عَلَيْهِ 

“ Sesungguhnya mayyit itu di siksa karena tangisan keluarganya atasnya”. 

Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini, menukil beberapa hadits shahih bahwa yang dimaksud adalah di masa itu orang-orang yang akan wafat itu sudah berwasiat kalau aku wafat nanti tangisi, ada kelompok penangis yang memang tugasnya menangisi mayyit, maksudnya kalau seandainya orang-orang yang tidak baik maka tentunya banyak yang tidak menangis, maka dibayarlah orang-orang untuk menangisi mayyit itu, ini yang dimaksud dalam hadits tersebut. Makna yang kedua adalah orang yang minta ditangisi ketika ia wafat, nanti kalau aku wafat kalian harus menangisiku maka hal ini yang di maksud oleh Al Imam Ibn Hajar. Yang ketiga, orang yang tidak mengajari keluarganya untuk bersabar kalau seandainya ada kematian dari keluarganya. Namun pendapat yang terkuat adalah yang pertama dan yang kedua, dan yang ketiga ini bukan pendapat jumhur (jumhur : mayoritas) . Pendapat jumhur adalah dulu di masa jahiliyah ada orang yang sengaja membayar kelompok tertentu untuk menangisi, hal itu yang membuat mayyit tersiksa disebabkan perbuatan orang itu menangisi, tapi jika seseorang menangisi mayyit begitu saja hal itu terjadi di masa Rasulullah SAW, demikian juga para shahabat besar sebagaimana riwayat tadi Sa’ad bin Ubadah RA, namun karena Rasulullah menjenguknya ia belum wafat, maka di saat itu Sa’ad Bin Ubadah sembuh dari sakitnya dan tidak wafat. 

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari ketika Sayyidina Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan ayahnya wafat , “ di saat ayahku wafat aku menangisi jenazah ayahku yang wafat, dan orang-orang melarang aku, supaya jangan menangis keras, tapi Rasullullah tidak melarangku “. Orang sedang menagis sedih mau dilarang dihardik lagi, Rasul SAW adalah orang yang paling lembut, beliau diam. Namun ketika datang Fathimah Ra (bibi Jabir bin Abdillah) maka ia menangisinya (tidak melarang/menghardik), lihat (bagaimana) cara Rasul untuk mendiamkan orang yang menangis , Rasul SAW tidak menghardik “keluar jangan tangisi mayyit..!!” beliau tidak berkata begitu, tapi beliau berkata : 

تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ 

“Engkau menangisi atau tidak menangisi jenazah ini, sungguh malaikat tetap menaunginya sampai kalian mengangkat jenazahnya “.

Lihat cara Nabi SAW menenangkan orang yang sedang dalam kesedihan, ditenangkan, maksudnya apa? Supaya berhenti tangisnya, supaya terhibur dari kesedihannya, bukan dihardik. Demikianlah akhlak Nabi Muhammad SAW ketika Sayyidina Jabir menangis, Rasul tidak melarang yang lain melarang sedangkan Rasul diam. Tapi ketika bibinya datang dan menagis, maka Rasul menenangkan denagn ucapan ini :

تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ 

Demikian indahnya cara dan metode yang sangat luhur dan sempurna dari budi pekerti Rasulullah SAW.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, tentunya ini berkaitan dengan pertanyaan yang sering muncul tentang hadits Rasul SAW :

قَاتَلَ اللهُ اْليَهُوْدُ إِتَّخَذُوْا قُبُوْرَأَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ 

“ Allah memurkai orang-orang Yahudi yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” 

Ini diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dan dijadikan dalil oleh sebagian saudara-saudari kita muslimin muslimat bahwa kuburan ulama di masjid haram hukumnya dan dimurkai Allah, tentunya tidak demikian makna dari hadits ini. Dijelaskan oleh Hujjatul Islam Wabarakatul Anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini adalah, bahwa yang dimaksud adalah menjadikan di atas kubur para Nabi sebagai tempat shalat, menginjak-injaknya atau menyembahnya, itu yang dilarang. Tapi kalau seandainya kuburan Ulama atau Shalihin di samping masjid atau di wilayah masjid hal itu tidak dilarang karena hal itu tidak ada larangannya, demikian yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari. Jadi, bertabarruk dengan para shalihin dan ulama dan juga barangkali pewakaf masjid menjadikan kuburan di dekat masjid hal itu tidak apa-apa. Dan dijelaskan pada Faidhul Qadiir menjelaskan bahwa berkata Al Imam Baidhawi bahwa kuburan Nabi Ismail adalah di Masjidil Haram justru orang thawaf disitu dan dijadikan tempat shalat, bahkan juga Masjid An Nabawy yang padanya terdapat kuburan Nabi Muhammad SAW, memang di masa Rasul SAW kuburan Nabi itu belum masuk menjadi wilayah masjid namun setelah perluasan di masa Khalifah Utsman bin Affan RA, diperluas di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Kw terus diperluas dan diperluas sampai lingkungan makam Rasul itu termasuk ke dalam lingkungan masjid, tapi kan tidak menginjak makamnya tentunya di situ ada temboknya, kan orang rukuk dan sujud di hadapannya kubur Rasul SAW hal itu sudah berjalan di masa para sahabat, hal itu sudah ada di masa Al Imam Bukhari , Al Imam Muslim dan Imam seluruh mazhab, para ulama dan para hujjatul Islam, jika hal itu munkar maka tentunya mereka tidak akan diam, bukan orang di zaman sekarang yang protes terhadap sesuatu yang sudah berjalan di masa Rasululullah SAW. Jadi yang dimaksud adalah menjadikan kubur para Nabi untuk disembah, demikian hadirin hadirat yang dijelaskan oleh Al Imam Bukhari dalam Shahihnya. Dan juga yang sering ditanyakan tentang hadits :

لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ اَلْمَسْجِدِ اْلحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى 

" Janganlah memaksakan ( berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram dan Masjid ku ini ( Masjid Nabawy) dan Masjidil Aqsa” 

Hadits ini sebagian saudara-saudara kita menjadikannya dalil larangan ziarah, tentunya beda. Dimana ziarah, dimana urusan Masjid Al Aqsa, Masjid An Nabawy dan Masjidil Haram. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini bahwa tidak ada larangan pergi ke masjid lain kalau disitu ada makam para shalihin atau bertabarruk padanya, yang menjadi makruh adalah mengkhususkannya untuk shalat, kalau untuk shalat tidak ada tempat yang lebih afdhal dari masjid itu, masjid di barat dan timur orang bilang kemuliaannya seperti apapun, tidak ada masjid yang lebih mulia shalat padanya daripada tiga masjid itu, Jadi semua masjid sama pahala shalatnya kecuali tiga masjid itu, jadi kalau datang ke suatu masjid untuk shalat di dalamnya, Rasul katakana semua Masjid itu sama hukum shalatnya jangan kalian terlalu bersemangat untuk mengunjungi masjid ini, atau masjid ini, itu makruh hukumnya bukan haram, kecuali tiga masjid tadi kalau ke Masjidil Haram, masjidil Aqsa, dan Masjid An Nabawy sangat bersemangat itu boleh. Tapi Al Imam Ibn Hajar menjelaskan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW berkunjung ke masjid Quba setiap hari sabtu, ini menunjukkan tidak ada larangan datang ke masjid manapun yang ingin kita kunjungi. Rasul SAW setiap hari sabtu datang ke masjid Quba dekat Madinah Al Munawwarah dan tidak pernah meninggalkannya, ini menunjukkan bahwa berkunjung ke masjid-masjid manapun ini boleh-boleh saja demikian ziarah shalihin, dan berkata Al Imam Ibn Hajar bahwa hadits ini juga membatalkan pendapat yang mengatakan larangan ziarah ke makam para shalihin dan masjid-masjid yang di bangun para shalihin, karena yang dimaksud larangan adalah kemuliaan masjidnya bukan shahib makam orang shalih yang ada di masjid tersebut, ziarah boleh-boleh saja. 

Demikian hadirin hadirat dua hal yang saya sampaikan tadi, hadits tentang :

لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ, dan إِتِّخَاذُ اْلقُبُوْر مَسَاجِدَ 

Mengenai kubah diatas kuburan, di dalam mazhab Al Imam Syafi’I bahwa hal itu tidak diperbolehkan kalau tanpa seijin pewakafnya, kalau pewakafnya mengizinkan maka tidak ada lagi larangannya. Namun hal itu mustahab (dianjurkan) bagi para Shalihin demikian yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawawy Hujjatul islam dan Imam lainnyabahwa dibuatnya kubah-kubah untuk para shalihin itu mustahab fih ( di sunnahkan).
Tentunya supaya orang yang ziarah kesitu tidak kepanasan dan tidak kehujanan, kalau mau berdoa atau apa maka tidak repot dan tidak terganggu, kasian para peziarah itu maka di bangun tempat untuk mereka, bukan untuk mereka yang wafat, mereka yang wafat sudah lewat dengan amal pahalanya, jika mereka mulia maka mereka akan dalam kemuliaan dan jika mereka hina maka mereka dalam kehinaan, namun orang yang berziarah kasihan, kalau banyak orang yang berziarah ke tempat itu kepanasan atau kehujanan dan lain sebagainya maka dibikinkan kubah saja untuk orang-orang yang hidup di dunia, kalau mereka yang wafat sudah di dalam istana kemegahan yang abadi di dalam kubur tanpa perlu ada kubah, demikian hadirin, tapi untuk orang biasa sebagian ulama bermazhab syafi’i mengatakannya makruh kecuali kalau tidak diizinkan oleh pewakaf maka tentunya menjadi haram hukumnya. 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul SAW adalah manusia yang paling indah budi pekertinya, berkata salah seorang sahabat Ra ketika seorang wanita memberi kabar kepada Rasul SAW, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, bahwa putrinya wafat maka Rasul SAW berkata katakan pada wanita itu ittaqillah washbirii : bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, Allah mengambil apa yang dimilikiNya.

إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ( رواه البخاري 

“Sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang Ia ambil dan kepunyaanNya apa yang Ia berikan dan segala sesuatu pada sisiNya itu ada ketentuannya”. ( HR. Bukhari ) 

Namun wanita itu mengirim lagi utusan kepada Rasul SAW dia belum bisa tenang atas kematian putrinya, maka Rasulullah SAW keluar bersama para sahabat untuk mengunjungi rumah duka, rumah jenazah. Sampai di rumah jenazah Rasul SAW tidak kuat menahan air matanya. Inilah yang saya sebutkan tadi bahwa Rasul SAW juga menangisi jenazah, menunjukkan hal ini tidak dilarang, maka Rasul menangis, kemudian para sahabat berkata “ Wahai Rasullullah engkau menangisi jenazah”?, Rasul berkata : 

هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوْبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءُ 

" Ini adalah kasih sayang yang dijadikan Allah pada setiap hati hambaNya, sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hambaNya yang penyayang”. 
Ini kasih saying kata Rasul, dan orang punya kasih sayang dan Allah beri kasih sayang itu sebagai anugerah yang agung. Manusia yang paling berkasih sayang Nabi kita Muhammad SAW. Allah jadikan kasih sayang itu ada pada setiap hati hambaNya. Dan sungguh Allah itu mengasihani dan menyayangi orang-orang yang berjiwa kasih sayang, makin berkasih sayang seseorang, makin disayangi oleh Allah. Semoga Allah menyinari dan menerangi hati kita dengan cahaya sifat kasih sayang kepada seluruh makhluknya hingga Allah selalu berkasih sayang kepada kita. 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW ini orang yang sangat peduli khususnya kepada fuqara’ , bagaimana Rasul SAW peduli kepada orang-orang susah,sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul saw sedang shalat dan selepas salam beliau langsung berdiri dan keluar dari shaf shalat, nah dalam hadits ini ada dua dalil yang bisa kita ambil, dalil yang pertama Rasulullah selepas shalat pasti berzikir dulu kenapa? karena ketika Rasul SAW selesai salam langsung keluar, maka para sahabat bertanya : “ ada apa Ya Rasulullah kok terburu-buru?” Rasulullah tidak menjawab terus keluar dari shaf shalat, menunjukkan bahwa Rasul SAW selepas shalat berzikir dulu. Kalau zaman sekarang orang yang mengatakan Rasulullah itu selepas shalat tidak berzikir , jadi berzikir selepas shalat itu hukumnya bid’ah? maka tentunya ia bertentangan dengan hadits ini. 

Hadirin hadirat… Rasulullah SAW terus keluar tidak ikut berzikir bersama jama’ah selepas salam selesai shalat, ditanya tidak jawab, tidak lama kemudian beliau berjumpa dengan para sahabat, ditanya oleh para sahabat “ Ya Rasulullah tadi engkau terburu-buru, kenapa? seakan-akan ada sesuatu yang membuatmu terkejar-kejar selepas salam tanpa zikir dan doa langsung keluar meninggalkan shaf shalat “, maka Rasul SAW berkata: “tadi aku selepas salam teringat ada butiran kecil daripada perak kusimpan di rumah lupa belum ku sampaikan kepada orang yang berhak, belum ku sedekahkan”. Mungkin kalau kita sekarang sebutir kecil perak itu harganya hanya lima ratus atau seribu rupiah. Selepas salam teringat kalau itu belum disedekahkan kepada fuqara’ maka keluar dari shalatnya terburu-buru, demikian indahnya budi pekerti Nabi Muhammad SAW, kalau sudah urusan hak para fuqara’ beliau tidak akan melambatkannya tetapi segera terburu-buru menyelesaikannya, padahal sebutir kecil perak saja, apalagi kalau emas atau uang yang banyak.

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bagaimana indahnya budi pekerti Nabi kita Muhammad SAW, ketika Rasul SAW didatangi seorang wanita yang membawa sebuah kain dan ia berkata ini aku tenun sendiri pakaian ini supaya engkau pakai wahai Rasulullah, maka Rasul SAW menerimanya dengan gembira dan senang, maka Rasulullah berterima kasih, dan wanita itu pergi kemudian Rasulullah pakai kain itu. Saat kain itu dipakai datang orang lain bersama para sahabat dan satu orang berkata : aku minta pakaian ini Ya Rasulullah, para sahabat lain marah mendengar hal itu, orang ini tidak punya akhlak kenapa? lagi di pakai oleh Rasul SAW diminta, pertama tidak punya akhlak kepada Rasul SAW, kedua lebih marah lagi karena mereka tahu bahwa Rasulullah tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta kepadanya, tidak pernah mengatakan tidak,

مَا سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ شَيْئًا قَطٌّ فَقَالَ لَا 

“ Tidaklah sesekali Rasulullah dimintai sesuatu kemudian berkata “ Tidak”. (shahih Bukhari) 

selalu memberi inilah Rasul SAW. Minta kepada orang yang tidak pernah menolak maka keterlaluan sekali kata sahabat kira-kira berkata seperti itu. Maka Rasul pun membukanya dan memberikannya. Maka para sahabat lain marah kepada orang itu dan sahabat berkata : tidak punya adab kamu ini, Rasulullah lagi pakai kau memintanya, maka orang itu berkata : bukan itu yang ku inginkan wahai sahabatku tapi aku ingin dikafani dengan pakaian yang telah di sentuh oleh tubuh Nabi Muhammad SAW, demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Maka ketika orang itu wafat ia dikafani dengan kain itu, karena ia ingin dikafani dengan pakaian yang sudah bersentuhan dengan kulitnya Nabi Muhammad SAW. 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Manusia yang budi pekertinya paling indah dan Rasul SAW bersabda :

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا 

“ Orang yang paling kucintai di antara kalian adalah orang yang paling bagus budi pekertinya” . (Shahih Bukhari) 

Kita bermunajat kepada Allah SWT semoga Allah memuliakan kita di dunia dan akhirah , Rabbi..limpahkan kepada kami kebahagiaan, limpahkan kepada kami kekhusyu’an limpahkan kepada kami kedamaian Rabbi kami bermunajat atas namaMu yang Maha Indah ,namaMu Yang Maha Abadi, namaMu yang Maha Tunggal. Rabbi..dari namaMu terpecah seluruh kemuliaan di alam semesta sepanjang waktu dan zaman, yang dari ketentuanMu seluruh kejadian dan kehidupan. Wahai pemilik dunia dan akhirah. Wahai pemilik barzakh, wahai pemilik alam zhahir dan alam bathin, wahai pemilik setiap sanubari, wahai yang maha membolak-balikkan sanubari dengan kehendaknya, maka terangi jiwa kami dengan cahaya namaMu yang Maha Indah, terangi hari-hari kami dengan keindahan anugerahmu , terangi siang dan malam kami dengan cahaya pengampunanMu

اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا خَيْرَ مَا عِنْدَكَ بِشَرِّ مَا عِنْدَنَا فَضْلاً وَإِحْسَانًا 

Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari anugerah yang akan Kau beri karena dosa-dosa kami, jangan sampi terhalang anugerah itu wahai Allah, terus sampaikan pada kami walaupun kami banyak berbuat dosa, tambahi pula anugerah kepada kami untuk ingin bertaubat, untuk ingin beristighfar untuk ingin membenahi diri, untuk ingin meninggalkan dosa. Ya Rabbi kami berdoa kepadaMu agar Kau amankan kami , amankan rumah tangga kami, amankan keluarga kami, amankan wilayah kami , tenangkan bumi Jakarta dari bahaya gempa dan jauhkan bumi Jakarta dari bahaya banjir dan bencana alam dan juga seluruh wilayah di negeri Indonesia ini, tenangkan bumi dari gempa tenangkan gunung daripada apinya, tenangkan hujan daripada membawa banjir dan musibah dan bencana alam lainnya gantikan Rabbi dengan guncangan jiwa yang menginginkan keluhuran jiwa yang terguncang dengan khusyu’ jiwa yang bergetar memanggil namaMu, Ya Rahman Ya Rahim..tenangkan alam semesta gemuruhkan jiwa dengan khusyu’ dan hidayah.. 

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا... 

Katakanlah bersama-sama…

يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ...يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ...لَاإِلهَ إِلَّا الله... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ.


                                                                             Sumber  (http://majelisrasulullah.org/)

Jumat, 06 November 2009

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW
Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.________________
Source : Search Engine, Islamic Site …

diposting dari :(http://ais.blogsome.com/)

Jumat, 30 Oktober 2009

Who are TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) from Korea?

The meaning of "Dong Bang Shin Ki" or "Tong Vfang Xien Qi" is "Gods Rising from the East". They consist of a five-member dance team is made up of high school students who auditioned for stardom. Each member of Dong Bang Shin Ki (DBSK) has proved his talent in singing as well as dancing. Thus, the mould of the korean boy band was formed.

The Dong Bang Shin Ki (DBSK) boys were put in different groups among peers during their training to be selected for the band, which was already named Dong Bang Shin Ki (DBSK) / Tong Vfang Xien Qi.

The first to join Dong Bang Shin Ki (DBSK) was Kim JunSu (김준수) who was 12 at that time; he was brought into the program through a TV show looking for a new talent. He continued to train for six more years and debuted under the name of Xiah Junsu (시아준수; Xiah is pronounced SHe-AH in Korean).

The next TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) member to join, Jung YunHo (정윤호), won his audition through a dance competition. However, he was no amateur--he had been a backup dancer and rapper for K-pop singer Dana. His chosen stage name is U-know YunHo (유노윤호; because when you say YunHo real fast, it sounds like U-know in English).

Kim JaeJoong(김재중), like Tamaki Nami (a Japanese pop singer), left his hometown to audition for SM Entertainment and debut under the name a fortune teller foretold years before: YoungWoong JaeJoong (영웅재중). He is also known as Hero, the meaning YoungWoong (영웅).

Shim ChangMin (심창민), was one of the youngest to audition; nevertheless, he passed the try-outs. He joined the band on the name of ChoiKang ChangMin (최강창민; the English counterpart to his stage name is Max).

Six months prior to the Dong Bang Shin Ki (DBSK)'s debut, a new member was added. American Park YooChun (박유천) changed his name to Micky YooChun (믹키유천). Originally, YooChun's English name was Micky, so he chose his English name to be part of his stage name.

For prep work, TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) recorded a single with The TRAX and BoA. BoA, already popular in Japan, and The Trax, which had released new music in Japan, made an awareness overseas about the new boy group.

Tong Vfang Xien Qi TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) has also released albums and singles in China. SM Entertainment has thought of adding a Chinese member to their group to help their popularity within the country. The management company had additionally thought of splitting Tong Vfang Xien Qi into two groups: one three-member group (U-Know, Micky, Xiah) to perform in South Korea and the other two (Hero, Max) with the new Chinese member to perform in China. The news of the addition of a new Chinese member/splitting the group is upsetting to the fans of Tong Vfang Xien Qi, Cassiopeia. The fans claim the musical group would only be itself with the five original members. Although this rotation was a problem in their first album, SM Entertainment did not rotate then; however, the problem had rosen again. However, now, SM Entertainment has abandoned the idea of rotating a Chinese member in Tong Vfang Xien Qi because of the overflowing amount of complaints from Cassiopeia and other fans.

On the other hand, since TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) Tong Vfang Xien Qi is very successful Korea, this boy-band's music has been shipped out to several countries in Asia.

In Korea, Tong Vfang Xien Qi TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) has released two albums (Tri-Angle, 2004; Rising Sun, 2005) and a Christmas album (The Christmas Gift From TVXQ, 2004). The group has also released a project album with all singers from SM Entertaiment under the name SM Town (Summer Vacation 2004), and three single albums (Hug, 2004; The Way U Are, 2004; Hi Ya Ya 여름날, 2005).

TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) is the male K-pop band that everyone talks about. TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) latest DVD release All About Dong Bang Shin Ki promises to create even more hype and fans for them.

If the repetitive and unoriginal music were stripped away, along with the over-singing, ill-fated lyrics, and lack of voice control, then we would still be left with a rather average boy band. SM's newest boy band endeavor, DBSK, is now princes to the SM Empire. We have seen this routine before, twice, and know that, regardless of talent, TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) will probably be hitting it big with numerous albums. There is a certain unimpressive attitude that we carry from this album, thinking that they would produce an album with more substance, more diversity, and more creativity then what they have given us. Usually albums that are unoriginal and just factory produced, such as this one, have a redeeming sound to it that merits at least the title 'catchy.' Yet it hurts to listen to some of these songs more than one time.

There is usually something to say about the title track of an album, and in this case, there of course is something very interesting to say: it closely resembles an H.O.T song. But who could blame SM for wanting to use popular songs from a popular boy group that they used to have signed to their label? However, with remakes of songs it is a rule of thumb to always expect less from the remake. In the case of 'Tri-Angle,' the original greatly outweighs the remake. The beat, though taken from another song, still retains its shock value of diversity. We have heard it before, but this time with different voices and a slight twist to it. Yet the song still lacks that special quality that DBSK just does not have and cannot find. We can sense a struggle in the album: TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) tries to hit that g-spot in the audience, but fails each attempt.

If the dance genre, with the very bizarre and ill-place rap/rock out, is not appealing to you, then there are a superfluous amount of very poorly done ballads to choose from. Usually it is the ballad that will redeem the artist in the case of very bad dance songs, but such is not the case with TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK). 'Thanks To,' though the chorus is rather subdued and mentionable, the solo parts in the song are very wishy-washy and retain little value because of the very bland voices. Many times throughout the song, and the album, there is a constant 'over-singing' quality that discredits the album as a whole. If the over singing was taken out and they stuck to their more subdued and bland voices, the album would have been better. But they had to reach farther then their little boy arms could reach for something that has about ten bear traps around it. In essence, they got caught with their hand in the cookie jar.

There are two semi- redeeming songs in this album that make it not fail miserably: 'Tri-Angle' the extended version with BoA and Trax and 'The Way U Are.' 'The Way U Are' was a single they released before they released their album and it gave us all hope. Though the song had a certain American- Boy Band nostalgia to it, making me wonder 'What ever happened to O-Town,' the song still had a very catchy and retaining quality that even the most anti-boy band/ mainstream person could admit was catchy enough. They vocals were better in that song then all the other songs, because they didn't try to sing something they couldn't sing. As for the extended title track, the only reason for its merit is because of BoA and Trax. Ironically, BoA outshines TVXQ (Dong Bang Shin Ki, DBSK) in the song as if DBSK were just children. If BoA were in every one of their songs, then the album would have been great, but not because DBSK were singing.

www.kpopmusik.co.uk/tvxq_dbsk.html

Kamis, 29 Oktober 2009

DBSK profile


Nama panggung ; Hero (Young Woong) Jaejoong
Nama asli : Kim Jaejoong
T.T.L. :Chungnam , 26 Januari 1986
Tinggi : 180cm
Berat : 63kg
Gol.darah : O
Hobby : Main game, n memasak
Posisi : Vokalis utama
Spesialisasi : Menyanyi dan menari





Nama pangguna;Max (Choikang) Changmin
Nama asli : Shim Changmin
T.T.L. : Seoul, 18 Februari 1988
Tinggi : 186cm
Berat : 61kg
Gol.darah : B
Hobby : Maen musik, nyanyi n makan
Posisi : Suara tinggi
Spesialisasi : Menyanyi dan menari





Nama panggung: Xiah Junsu
Nama asli : Kim Junsu
T.T.L. : Gyeonggi, 1 Januari 1987
Tinggi : 178cm
Berat : 63kg
Gol.darah : B
Hobby : Maen piano n maen sepak bola
Posisi : Suara tinggi, medium
Spesialisasi : Menyanyi dan menari





Nama panggung:U-Know Yunho
Nama asli : Jung Yunho
T.T.L. : Gwangju, 6 Februari 1986
Tinggi : 184cm
Berat : 66kg
Gol.darah : A
Hobby : Olahraga, menggubah musik
Posisi : Suara bass
Spesialisasi : Menyanyi dan menari





Nama panggung : Micky Yoochun
Nama asli : Park Yoochun
T.T.L. : Seoul, 4 Juni 1986
Tinggi : 180cm
Berat : 60kg
Gol.darah : O
Hobby :Menggubah musik/lirik/rap
Posisi : Suara rendah, medium
Spesialisasi : Menyanyi, n menggubah